a very first story of mine
Ini adalah postingan pertamaku setelah memutuskan untuk menyalurkan kebutuhan mengeluarkan 20.000 kata yang akhir2 ini menjadi masalah dalam kehidupan rumah tanggaku.
Kenyataan ini cukup membuatku sakit karena aku gak pernah nyangka kalo apa yang aku anggap hal paling alami bagi seorang wanita ini ternyata menjadikan suamiku cukup tertekan.
Jadi selama 3 tahun 7 bulan usia pernikahan kami ini, suamiku selalu memendam perasaan yang gak enak karena sifat ngomelku (yang menurutku wajar).
Dan semalam lagi2 dia membahas ini. "Bunda tau gak sih kalo selama ini ayah masih selalu hati2 bicara supaya kamu gak ngomel2" itu yang kembali ia ucapkan. "Buda ngomel itu gak berrati selalu marah yah, kadang itu cuman sekedar cara bunda untuk memenuhi kebutuhan bicara jadi gak perlu dianggap terlalu serius" sanggahku. "Tapi ayah merasa tertekan kalo bunda sering ngomel, tiap hari loh bunda ngomel gitu". Aku pun mulai mengingat, kapan aku ngomel yaa.. kayaknya seharian ini aku ngomong biasa aja.
Inilah kira2 gambaran rumah tangga kami, sebenarnya tidak terlalu serius tapi kalo ternyata hal ini membuat salah satu dari kami selalu tertekan bisa berabe juga kan..
Jadi setelah percakapan yang kesekian kali itu, tiba2 aku terngiang2 perkataan salah satu temenku. "Aku biasanya menulis untuk memenuhi kebutuhan 20.000 kata yang harus kita_sebagai perempuan_keluarkan.
Dan dari situlah tulisan ini berawal
Komentar
Posting Komentar